Selasa, 25 November 2008

MITOS PENCIPTAAN DALAM SANDA MANGGARAI

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

Salah satu kuliah yang saya ampu di Fakultas Filsafat UNPAR ialah fenomenologi agama. Untuk tahun ini saya memakai buku Mariasusai Dhavamony (Fenomenologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1995) sebagai buku pegangan (sumber). Salah satu bab yang penting dan menarik di sana adalah tentang Mitos sebagai salah satu bentuk pengungkapan agama-agama. Memang mitos-mitos penciptaan yang dilukiskan Mariasusai Dhavamony itu sangat menarik perhatian. Kemarin saya memberi kuliah tentang mitos-mitos ini kepada para mahasiswa saya di Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Ketika sedang memberi kuliah itulah saya teringat akan dua hal penting ini.

Pertama, ada dari antara mitos-mitos itu yang serta-merta mengingatkan saya akan versi-versi kisah penciptaan seperti yang dapat kita temukan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Dalam perkembangan lagu-lagu rohani Kristiani, ada orang yang menciptakan lagu Abba Father. Saya kira lagu ini diilhami juga oleh kisah-kisah penciptaan dalam Kitab Suci. Sayang saya sudah lupa nama pengarang lagu ini, tetapi saya sudah menghafal lagu itu sejak awal tahun 80-an dulu.

Teks lagu itu berbunyi sebagai berikut:

Abba,

Abba Father,

You are the Potter,

We are the clay.

Selanjutnya dalam bait kedua dikatakan sebagai berikut:

Mold us,

Mold us and fashion us,

into the image,

of Jesus Your Son.

Jadi, bait kedua ini melukiskan keluhuran martabat anak manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Yesus Kristus sendiri. Sadar akan keluhuran martabat itu, maka muncullah bait ketiga yang berbunyi sebagai berikut:

Glory,

glory and praise to You,

glory and praise to You,

for ever amen.

Tiga bait lagu itu mengandung teologi penciptaan dan penyelamatan. Luar biasa. Sangat singkat, tetapi sekaligus juga sangat dalam. Dalam bait pertama, Allah dibayangkan secara antropomorfistis sebagai seorang tukang atau pengrajin tanah liat dan kita adalah tanah liat yang dibentuk oleh sang seniman agung, yang tidak lain adalah Allah itu sendiri. Dalam Bait kedua, tema teologi penciptaan itu dikatakan mengikuti modelYesus Kristus. Kiranya ini amat dipengaruhi oleh Kolose 1:15-20 (yang tidak bisa saya bahas lebih lanjut di sini).

Hal kedua yang secara spontan saya ingat dalam proses penjelasan kuliah itu adalah kidung sanda dalam bahasa Mangarai, yang juga mengandung nada-nada teologi penciptaan. Bunyinya adalah sebagai berikut:

Eaaooooo,

ooe Mori eta awang surga go Mori,

mai naring ta,

mai suju ta one Mori

e landing mesen nerane.

Dere tedeng len,

naring dengkir tayn,

naring kudut lerem,

kudut lerem dedek,

pande lerem dedeke.

Pande nggalas wakar dami Mori ga,

kudut pecing salang surga,

kudut haeng mose tedeng len, lewe len.

Somba ooooo,

ole Mori,

neka lelo ndekok mori

eeeeoooooo,

oou dadang ata neteng tana (salang)

one Moren e landing mesen nerane.

Dere tedeng len,

naring dengkir tayn,

naring kudut lerem,

kudut lerem dedek,

pande lerem dedeke.

Lagu ini adalah lagu yang saya angkat dari perbendaharaan misa inkulturasi ke dalam budaya Manggarai yang sangat hidup pada era tahun 70-an. Kalau ditilik syairnya, maka di beberapa tempat ia juga berkisah antara lain tentang penciptaan dan penyelenggaraan hidup harian dalam dan kepada Tuhan.

Saya sudah menghafal lagu ini sejak masih kecil, karena sejauh saya ingat, adalah papa saya, Feliks Mar, yang melatih lagu-lagu sanda ini kepada anak-anak SDK (Sekolah Dasar Katolik) Ketang, untuk dibawakan dalam pesta-pesta besar gereja, terutama Paskah dan Pentakosta. Ya, memang papa saya itu adalah guru dan juga seniman yang bagaimana pun juga punya sedikit andil menanamkan kepada kami, suatu apresiasi dan kecintaan akan lagu-lagu Manggarai. Saya sendiri masih ingat akan semuanya itu dengan sangat baik hingga saat ini.

Memang ingatan yang sudah ditanamkan sejak kecil terus saja akan berbekas hingga kita menjadi dewasa. Itulah kekuatan lagu-lagu, dan cerita, kekuatan para penyanyi, dan kekuatan para pencerita.


Bandung, 25 November 2008

(ditulis dalam BH dan dikomputerisasi sambil dikembangkan lebih lanjut).


Tidak ada komentar: