Senin, 01 Agustus 2011

REIS, RUIS, RAES, RAOS....

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Hari ini, 25 April 2011, saya tiba-tiba teringat akan sebuah dialog ringan antara saya dan Pater Flori Laot OFM, beberapa puluh tahun lalu ketika saya sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di postulan OFM di Pagal, Manggarai, Flores. Seperti biasa beliau selalu muncul dengan beragam pikiran yang segar dan tajam, bahkan cenderung aneh-aneh, dan mengejutkan. Tetapi suatu kali ia tampak serius dan tampil sebagai filsuf Manggarai, yah sebab di mata saya ia adalah sosok Socrates Manggarai. Pada saat itu saya sangat ingat ia berbicara tentang substansi relasi intersubjektifias menurut paham dan pandangan orang Manggarai. Betapa saya sangat terkejut karena menurut beliau inti pokok Filsafat Manusia Manggarai sesungguhnya hanya berkisar di sekitar beberapa kata-kata kunci sbb: Reis, Ruis,Raes, Raos. Juga dengan urutan seperti itu, karena menurut Pater Flori, urutan itu tidak boleh dibalik, tidak bisa dibalik; hanya urutan itu saja yang mempunyai makna filosofis, katanya.

Sejenak setelah mengucapkan inti pokok filsafat manusia itu, seperti biasa Pater Flori berdiam diri sejenak. Dan hal itu sudah menjadi semacam kebiasaan dia di dalam metode pengajarannya. Diam untuk memancing dialog dan pertanyaan kritis entah itu terucapkan dalam kata-kata ataupun sekadar tampak melalui expresi wajah. Saat itu saya memilih diam dan hanya menampakkan pertanyaan saya lewat ekspresi wajah saya. Rupanya setelah melihat dan mendengar rasa penasaranku, Pater Flori lalu mulai menjelaskan pandangan filosofisnya dengan berangkat dari sebuah analisis semantik atas kata-kata yang sudah disebutkannya di atas tadi.

Menurut dia, keinginan manusia Manggarai untuk membangun relasi dan komunikasi terungkap secara paling mendasar dalam kata Reis. Tentu saja kata reis ini berakar pada akar kata rei yang arti leksikalnya ialah bertanya, menanyakan. Tetapi seperti yang kita lihat di sini, kata dasar rei itu diberi imbuhan akhir berupa huruf s sehingga kata dasar rei itu lalu berubah menjadi reis. Penambahan imbuhan akhir itu menyebabkan terjadi transformasi makna semantik atas kata rei itu dan sekarang dalam bentuk reis ia mempunyai arti menyapa orang lain (menyapa sesama) dengan penuh keramah-tamahan, dengan kelemah-lembutan, dan dengan memakai tutur kata yang halus, sopan, dan serba terpilih. Lalu di sana, setelah ada peristiwa reis, atau berkat reis itu, pihak yang di-reis akan membuka diri dengan senyum ramah dan tutur kata yang halus dan sopan, menjawab atau menanggapi reis itu dengan wale. Lalu di sana secara otomatis akan terbangun sebuah relasi, terbangun sebuah komunitas, komunitas wacana, community of discourse, meminjam istilah dari filsuf Jerman Juergen Habermas. Setiap kali ada tamu yang bertandang ke rumah orang Manggarai, maka tamu itu akan terlebih dahulu disapa dengan reis. Semua urusan lain datang belakangan sesudah reis itu. Reis itu menandakan bahwa si tamu yang datang bertandang itu sudah diterima di rumah itu, bahkan diterima dalam hati si tuan rumah. Tidak hanya di rumah. Bertemu di jalan juga selalu diawali dengan reis, dan dengan reis itu maka suasana pun lalu menjadi cair, akrab, dekat, dari hati ke hati. Betapa ada mukjizat kata-kata yang terucap di sana. Reis menjadi sebuah peristiwa mukjizat. Mukjizat relasi, mukjizat komunikasi dalam kata-kata, relasi verbal. Sebab menurut Yohanes, pada awal mula adalah kata, en arche en ho logos.

Buah hasil dari saling keterbukaan yang diawali dengan peristiwa dan mukjizat reis itu, muncullah sebuah suasana dan mukjizat kedua yang terungkap dalam kata kedua dalam daftar di atas tadi, Ruis. Ruis sendiri pada dasarnya berarti dekat, kedekatan, keakraban, hospitalitas, keramah-tamahan. Berkat ruis ini, dia yang tadinya adalah orang asing, orang luar, orang jauh, kini menjadi orang yang dekat, orang dalam, sanak saudara, teman ataupun sahabat, menjadi saudara (menarik untuk diperhatikan di sini bahwa konon secara etimologis kata saudara berarti satu perut, satu rahim, sa-udara). Begitulah kira-kira filsafat heterology dari Michel de Certeau dalam projek heterologinya itu yang juga sangat dipengaruhi oleh Emanuel Levinas (terutama terkenal dengan proyek “yang lain”nya yang kehadirannya menantang kita secara etis) dan Pierre Bourdieu yang terkenal dengan konsep habitus-nya itu. Dalam konteks ini terbangunkan sebuah solidaritas, sebuah belarasa, sebuah perkumpulan yang ditandai oleh kedekatan. Di sana apa yang tadinya asing lalu menjadi akrab, apa yang tadinya jauh lalu menjadi dekat, semua lalu menjadi saudara, satu rahim, satu perut.

Dalam pemikiran pater Flori, hal itu tidak hanya berhenti di ruis saja. Jika ruis sudah terbangun, maka secara otomatis akan muncul juga sebuah keinginan yang lain yaitu keinginan untuk raes. Kata raes ini pada dasarnya mempunyai arti menemani, menyertai, to accompany. Orang mau menemani karena orang sudah merasa akrab, dekat. Kedekatan itu menciptakan suasana dan rasa aman, feeling secure, security. Rasa aman itulah yang pada gilirannya mendorong dan menggerakkan orang untuk mau menemani, raes, to accompany. Tanpa perasaan ruis itu tidak mungkin muncul keinginan dan kerela-sediaan untuk raes. Ruis menjadi prasyarat mutlak (conditio sine qua non) bagi raes. Tanpa ruis tidak akan muncul perasaan dan keinginan raes. Itu sebabnya, jika setelah terciptanya ruis, dan orang tidak ada waktu untuk raes, maka orang itu akan memohon ijin dengan penuh kesopanan agar dimaafkan karena tidak bisa terus dalam raes itu.

Lalu di akhir semuanya itu, muncullah raos. Apa arti kata raos ini? Kata Raos ini pada dasarnya berarti suasana keramaian karena keramah-tamahan. Raos itu sendiri memang berarti ramai, tetapi keramaian ini bukanlah sebuah keramaian yang terjadi karena ribut gaduh, seperti keramaian di pasar, suasana crowded, melainkan keramaian yang terbangun dari dan karena rasa kedekatan, keakraban, yang tercipta karena hospitalitas. Jadi semua alur itu bermuara pada keramaian karena keramahan, pada raos. Apa yang dimulai pada reis, lalu terus ke ruis, lalu terus ke raes, akhirnya bermuara pada raos.

Rupanya uraian filosofis pater Flori tidak hanya berhenti di situ saja. Sebab ia masih melanjutkan penuturannya dengan menerapkan filsafat kata-kata itu ke relasi personal. Menurut beliau, pada tingkat relasi personal suasana raos ini akan bermuara pada rao, yang artinya memeluk erat, dan rao (atau nggao) itu tidak lain adalah tanda cinta, tanda keakraban, tanda saling berbagi, saling berbuka, tanda menjadi satu tubuh, menjadi satu daging. Lalu dari persatuan personal, persatuan tubuh itu muncul hidup dan ada baru, dan hidup serta ada yang baru itu akan melanjutkan denyut kehidupan dan ada ke masa yang akan datang.

Ditulis kembali dan dikembangkan (dengan kata-kata saya sendiri)
02 Agustus 2011.

Tidak ada komentar: